BREAKING
  • Seorang Pemenang

    Seorang pemenang takkan pernah berhenti untuk berusaha dan orang yang berhenti untuk berusaha takkan pernah menjadi seorang pemenang

  • Orang Sukses dan Orang Gagal

    Orang sukses berbuat untuk memulai. Orang gagal berpikir untuk memulai.

  • Jangan Hanya Sukses

    Janganlan berusaha menjadi orang sukses saja, tetapi berusahalah menjadi orang yang penuh dengan peluang

  • Lakukan Apa Yang Harus Di Kerjakan

    Buatlah daftar apa yang harus kita kerjakan hari ini, awali dengan doa dan rasa syukur karena kita masih mempunyai kesempatan untuk berbuat dan berubah menjadi lebih baik

Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2011

Thamrincity gandeng puluhan UMKM Sukoharjo

Sukoharjo (Espos) – Manajemen kawasan bisnis Thamrincity Jakarta bekerjasama dengan Dinas UMKM dan Koperasi Sukoharjo menggandeng 80 pelaku usaha mikro kecil mengah (UMKM) dalam pemasaran produk daerah.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sukoharjo, Bambang Sudibyo mengatakan, kerjasama Thamrincity dengan Kabupaten Sukoharjo tersebut membuka peluang yang lebar untuk promosi hasil kerajinan lokal di tingkat nasional.

Bambang menjelaskan, pihak Thamrincity bersedia menyewakan kios secara gratis selama tiga bulan bagi 80 pelaku UMKM di Kabupaten Sukoharjo.
“Kerjasama ini ditandai dengan pemberian fasilitas-fasilitas dari pihak Thamrincity. Di antaranya, Thamrincity mengajak 80 pelaku UMKM untuk menempati kiosnya secara gratis tanpa biaya sewa,” papar Bambang saat dijumpai wartawan di sela-sela sosialiasi kerjasama Thamrincity dengan Dinas Koperasi dan UMKM Sukoharjo, Selasa (8/2).

Sosialisasi yang digelar di ruang pertemuan Dinas Koperasi dan UMKM Sukoharjo dihadiri sekitar 70 pelaku UMKM yang tersebar di seluruh kecamatan. Mereka merupakan perwakilan dan kelompok-kelompok UMKM di Sukoharjo.

Bambang melanjutkan, dalam kerjasama itu, pihak Thamrincity juga bersedia membiayai keberangkatan 80 UMKM tersebut ke Jakarta.
“Akan disediakan 2 bus untuk mengantar 80 UMKM itu. Selain itu, ada satu truk yang siap dibiayai untuk membawa barang-barang mereka. Kalau ternyata barang mereka banyak, maka diharapkan pelaku UMKM itu bisa patungan,” jelasnya.

Zona Relation Head Thamrincity, Nurlia Dewi Puspita mengatakan, kerjasama itu dilakukan karena manajemen Thamrincity berkomitmen untuk membina dan mengembangkan UMKM daerah. Potensi UMKM di Kabupaten Sukoharjo untuk dipasarkan ke tingkat nasional dinilainya sangat terbuka lebar.

“Kalau batik di Thamrincity sendiri sudah ada. Begitu juga dengan alat musik. Tapi kalau gitar yang langsung dari pengrajin seperti di Sukoharjo ini belum ada di Thamrincity, apalagi gitar dari Sukoharjo memiliki kualitas ekspor. Maka kami akan senang jika kerjasama ini bisa berlanjut dan diperpanjang,” pungkas dia. [solopos.com]

Minggu, 23 Januari 2011

Mengembangkan UMKM Berbasis Kompetensi

SEJUJURNYA saya dibuat gelisah dengan kompetensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia.Ada yang kualitasnya sudah kelas global, patut disyukuri dan tentunya tugas kita semua untuk memperbanyaknya. Namun, harus diakui jujur, jumlah yang belum siap menghadapi persaingan global masih lebih banyak.

Inilah masalah kita semua; pemerintah, Kadin, perbankan, perguruan tinggi, dan stakeholders terkait lainnya. Bagaimanapun globalisasi ekonomi akan menjadi ”monster buas” pemakan UMKM. Padahal,UMKM adalah pelaku mayoritas ekonomi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir menyebutkan ada 51,3 juta unit usaha atau 99,91 persen dari pelaku usaha di Indonesia. Artinya,keguncangan kepada UMKM akan sangat mengganggu denyut nadi ekonomi bangsa ini. Dari sisi penyerapan tenaga kerja juga terbanyak, 90,9 juta pekerja atau 97,1 persen.

Jika sampai ”monster globalisasi” memakan UMKM,ada puluhan juta anak bangsa yang nasib kesejahteraannya dipertaruhkan. Selain itu, kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) juga mencapai Rp2.609,4 triliun atau 55,6 persen dari total PDB nasional. Demikian halnya, nilai investasi yang cukup signifikan, Rp640,4 triliun atau 52,9 persen. Penciptaan devisanya pun mencapai Rp183,8 triliun atau 20,2 persen. Sebuah angka ekonomi yang menunjukkan betapa strategisnya UMKM bagi perekonomian nasional.

Beyond Mitos

Diskusi kami dengan pelaku UMKM dan para ekonom berkesimpulan, kita semua harus keluar dari mitos bahwa UMKM akan bertahan sebagaimana posisinya ketika terjadi krisis. Fakta itu memang benar adanya. Namun, jangan menjadi mitos sehingga kita semua, stakeholders, tidak berbuat banyak. Untuk menghadapi globalisasi, meningkatnya kompetensi UMKM adalah harga mati. Saya justru menduga, angka ekonomi UMKM yang disebutkan di atas adalah hasil murni apa yang dilakukan mereka selama ini.Atau kalaupun ada pengaruh kebijakan dan upaya pemberdayaan, masih belum besar. Memang belum ada riset yang menggambarkan ini.

Namun, secara sederhana dapat kita lihat betapa masih banyak UMKM selama ini seperti rumput liar tak terurus. Ada yang terurus, tapi terlalu banyak yang mengurus dengan berbagai insentif yang banyak juga. Ini terjadi karena tidak adanya database UMKM yang terpusat dan menjelaskan lembaga mana yang membina UMKM mana. Meski demikian, masih tersisa ruang optimisme. Survei HSBC 2010 yang baru-baru ini dirilis menyatakan, 70% UKM percaya ekonomi Indonesia akan stabil atau justru meningkat. Sementara 73% UKM berencana mempertahankan, bahkan menambah investasi.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, 96% UKM tidak memiliki rencana untuk mengurangi karyawannya, bahkan 20% di antaranya berencana menambah jumlah karyawan. Dari sisi transaksi internasional, kebutuhan UKM untuk melakukan transaksi internasional dalam dua tahun ke depan akan meningkat sebanyak 11%.

Dari Warisan Menuju Inovasi

Ketika kami berkunjung dan berdiskusi dengan UMKM yang sukses, ada beberapa kata kunci yang dapat diambil. Salah satunya adalah betapa banyak UMKM yang hanya mengandalkan kemampuan berdasarkan warisan, apa yang diajarkan orang tua atau pelaku usaha awal.Inovasi dan manajerial usaha yang bagus masih jauh. UMKM yang sukses selalu mampu keluar dari pola lama warisan ke inovasi dan pengembangan kompetensi. Karena itu, ada beberapa hal yang wajib dipenuhi agar kompetensi UMKM terpenuhi. Pertama, manajerial yang baik.

Sesederhana apa pun, manajerial adalah kata kunci, secara individu maupun organisasi, ketika hendak meraih kesuksesan. UMKM harus mau belajar dan bagi yang telah sukses, mau berbagi. Stakeholders terkait harus bergerak memberikan edukasi dan berbagai pelatihan untuk mendorong agar terpola sistem manajerial UMKM yang baik. Kedua, jejaring (networking) yang luas. Soal ini bisa dilakukan dengan membangun komunitas dan sering ikut dalam berbagai pameran. Ketiga, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi sangat erat kaitannya dengan jejaring, promosi, pelayanan dan kualitas produk. Keempat,inovatif menciptakan produk potensi lokal sebagai keunggulan usaha. Kita banyak melihat ke luar dibanding ke dalam. Padahal banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan.

Hanya saja, problemnya di pemasaran dan kemasan. Kelima, membangun pasar bagi produk unggulannya. Untuk membangun potensi lokal tersebut, ada beberapa kebijakan yang dapat dilakukan. Pertama, pengembangan program One Village One Product (OVOP). Pengembangan ekonomi komunitas berdasarkan potensi ekonomi dan produk daerah tersebut. Kedua, memberikan pelatihan pembina (konsultan diagnosis/ pembimbing) UKM guna membina perbaikan manajemen UKM. Ketiga, meningkatkan kemitraan antara BUMN,BUMD, atau swasta dengan UKM.Keempat, pemerintah daerah dan stakeholdersdaerah memberi dukungan brand lokal menjadi brand nasional bahkan internasional.Untuk itu harus dilakukan penguatan sinergi antara pemerintah dan UMKM untuk mengangkat potensi lokal.

Dari sisi pembiayaan, peran Bank Perkreditan Daerah dalam intermediasi perlu ditingkatkan. Dari sisi kesiapan dan kesinambungan pengembangan produk lokal diperlukan upaya pengembangan keterampilan generasi muda daerah agar mampu mendukung UMKM untuk peningkatan ekonomi lokal. Di luar itu semua, ini merupakan peran pemerintah pusat atau daerah yang juga harus didukung swasta, adalah percepatan pengembangan infrastruktur di daerah.Karena problem UMKM di daerah yang paling menonjol adalah kesiapan infrastruktur yang selama ini cukup membebani biaya operasional UMKM.

Saya menyadari, kecemasan hanya akan sekadar kecemasan tak bermakna jika kita semua tidak bergerak dari sekarang dan dari hal yang mungkin dilakukan.Mari bersinergi dan menentukan apa yang harus masing-masing kita lakukan. Ini penting, karena selama pola pemberdayaan UMKM masih tumpang tindih, saudara kita itu sulit bertumbuh. (*)

Sandiaga S Uno
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM dan Koperasi
Sumber : okezone.com

Kamis, 13 Januari 2011

Cipta Karya Seni Batik Indonesia

Batik Indonesia merupakan wujud hasil cipta karya seni, diekspresikan pada motif kain untuk pakaian, sarung, jarig dan kain dekoratif lainnya dibuat dengan proses mempergunakan "malam" dan canting untuk batik tulis. Awal pengenalan batik di Indonesia melalui proses asimilasi kebudayaan pendatang Cina dan India, kemudian dengan penduduk pribumi. Sejalan dengan perkembangannya nilai sosial dan budaya bangsa Indonesia, Batik hasil karya seni tumbuh dan berkembang menjadi kekayaan nasional bernilai tinggi.

Pemakaian batik bertalian erat dengan peristiwa, status sosial dan lambang budaya dengan demikian batik tumbuh menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi menjadi sumber penghasilan, mendorong tumbuhnya disain baru serta penganekaragaman penggunaan bahan baku, bahkan telah dapat memberikan kontribusi berarti dalam ekspor nonmigas.

Batik mengandung unsur seni, kerajinan tangan dikerjakan para wanita sejak dahulu menggunakan alat sederhana canting dan pewarna alami dari tumbuhan. Kegiatan industri berkembang pesat, kemudian batik secara massal dihasilkan melalui proses pembatikan menggunakan cap, pewarnaan pengaruh dari negara maju, tanpa meninggalkan nilai timur yang tinggi dan masih tampak pada unsur pengerjaan tangan secara terampil menonjolkan kehalusan karya seninya.

Keunggulan Batik Trusmi Cirebon

Berulangkali disetiap berlangsungnya pameran batik di Jakarta maupun di kota lain seringkali pembeli menanyakan kepada saya, “Apa sih keunggulan batik Trusmi atau batik Cirebonan dibanding dengan batik-batik yang berasal dari daerah lain?” Jawaban dari saya kurang lebih sebagai berikut: Menurut pendapat saya bahwa pada dasarnya batik-batik yang dihasilkan oleh sentra-sentra kerajinan batik dari berbagai daerah pada umumnya sangat bagus sekali serta memiliki corak motif yang sangat beragam dan khas serta tidak bisa dikatakan batik yang satu lebih baik dari dari daerah lainnya.

Keunikan motif serta corak yang dihasilkan dari batik-batik berbagai daerah merupakan kekuatan yang sangat luar biasa, khususnya bagi kekayaan batik Indonesia. Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik seperti yang di miliki oleh bangsa Indonesia.


Bilamana kita ingin melihat banyaknya kekayaan desain motif batik Indonesia contoh yang paling sederhana bisa dilihat di wilayah Jawa Barat saja. Walaupun masih dalam satu propinsi dan kultur budaya yang sama, tiap-tiap daerah seperti Cirebon dengan Indramayu sudah memiliki karakter dan desain motif yang berbeda. Antara Cirebon dan Garut juga memiliki perbedaan yang sangat jauh sekali dan sangat signifikan perbedaannya.

Secara umum batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran. Namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik Keraton. Hal ini karena di Cirebon memiliki dua buah keraton yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebon Klasik seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas dan lain-lain.

Beberapa hal penting yang bisa dijadikan keunggulan (ciri khas) batik Cirebon dibandingkan dengan produksi batik dari daerah lain adalah sebagai berikut
  1. Batik Cirebonan untuk desain-desain klasik tradisional biasanya selalu mengikut sertakan motif wadasan (batu cadas) pada bagian motif tertentu. Disamping itu ada unsur ragam hias berbentuk awan (mega) pada bagian-bagian yang disesuaikan dengan motif utamanya.
  2. Batik Cirebonan tradisional/klasik selalu bercirikan dengan latar belakang (dasar kain) berwarna lebih muda dibandingkan dengan warna garis motif utamanya
  3. Bagian latar/dasar kain biasanya bersih dari noda hitam atau warna-warna yang tidak dikehendaki akibat penggunaan lilin yang pecah sehingga pada proses pewarnaan mengakibatkan zat warna yang tidak dikehendaki menempel pada kain.
  4. Garis-garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5 mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus (canting tembok dan bleber).
  5. Warna-warna batik Cirebonan klasik biasanya dominan warna kuning, hitam (sogan gosok) dan warna dasar krem, sebagian lagi berwarna merah tua, biru, hitam dengan dasar warna kain krem atau putih gading. 
Kelima ciri tersebut merupakan hal teknis keunggulan dari batik Cirebonan klasik/tradisional.

Lain halnya dengan kelompok batik Cirebonan yang termasuk kelompok batik Pesisiran. Karakter batik Cirebonan Pesisiran dipengaruhi oleh sebagaimana karakter penduduk masyarakat pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh asing. Daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan lain etnis (asimilasi) maka batik Cirebonan Pesisiran lebih cenderung menerima pengaruh dari luar.

Batik Cirebon lebih cenderung memenuhi atau mengikuti selera konsumen dari berbagai daerah (lebih kepada pemenuhan komoditas perdagangan dan komersialitas), sehingga warna-warna batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna.

Produksi batik Cirebonan pada masa sekarang terdiri dari batik Tulis, batik Cap dan batik kombinasi tulis cap. Pada tahun 1990 – 2000 ada sebagian masyarakat pengrajin batik Cirebonan yang memproduksi kain bermotif batik Cirebon dengan teknik sablon tangan (hand printing), namun belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah, dikarenakan kalah segalanya oleh teknik sablon mesin yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar.

Daerah penghasil produksi dan pengrajin batik Cirebonan terdapat di 5 wilayah desa yang berbeda, tepatnya daerah-daerah yang ada di sekitar desa Trusmi (pusat batik Cirebonan). Desa-desa yang berada di sekitar desa Trusmi diantaranya desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah dan Panembahan. Pertumbuhan batik Trusmi nampak bergerak dengan cepat mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat dari banyaknya bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada satu atau dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi.[netsains.com]

Memberdayakan Usaha Kecil

AM Fatwa
Anggota DPD Provinsi DKI Jakarta

Saat ini sangat pesat dibangun pasar swalayan modern dengan berbagai nama. Sementara pasar tradisional belum menampakkan perkembangan yang berarti. Padahal, pasar tradisional menjadi tumpuan rakyat kecil dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Para pedagang di pasar tradisional kebanyakan berasal dari pedagang kecil dan menengah.

Pemberdayaan usaha kecil dan menengah yang notabene banyak berada di pasar tradisional sangat penting dalam rangka mengurangi kemiskinan, kesenjangan sosial, dan mengatasi masalah pengangguran. Peningkatan keberdayaan dan kemandirian masyarakat perlu mendapat perhatian serius. Salah satunya adalah usaha kecil dan menengah (UKM) yang banyak melakukan kegiatannya di pasar tradisional.

Program peningkatan pertumbuhan ekonomi itu penting. Tetapi, yang tak kalah penting juga adalah mengatasi kemiskinan dan kesenjangan kaya-miskin. Fakta menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak otomatis akan menghilangkan kemiskinan dan kesenjangan sosial yang masih menjadi problem besar bagi pemerintah dan bangsa Indonesia umumnya.

Pemerintah harus konsisten pada penguatan potensi UKM dengan menfasilitasi, menyubsidi, melindungi, dan membimbing atau membinanya. Pengalaman menunjukkan bahwa UKM justru tidak mengalami dampak yang besar ketika krisis moneter melanda Tanah Air tahun 1998. Bahkan ada yang mengatakan, UKM merupakan "penyelamat" perekonomian nasional pada masa krisis lalu, sementara banyak usaha berskala besar justru mengalami kemunduran yang dahsyat atau gulung tikar.

Dalam konteks tersebut, kondisi Jakarta sangat memerlukan perhatian akan keberadaan pasar tradisional karena secara kuantitatif UKM berada di pasar tersebut. Ironisnya, di Jakarta dan sekitarnya justru gencar dibangun usaha-usaha modem yang besar, yang kadang dilakukan dengan menggusur, mengebiri, meminggirkan, bahkan berakibat matinya UKM.

Penataan ruang atau kawasan di suatu daerah memang perlu dan penting, tetapi harus dilakukan secara elegan dengan solusi yang baik, sehingga tidak merugikan, melemahkan, dan mematikan usaha rakyat kecil yang banyak beroperasi di pasar-pasar tradisional. Dengan kata lain, UKM-UKM harus dibantu dan diberdayakan seoptimal mungkin. Dalam kaitan itu, perlu diingat bahwa keberpihakan pada pengusaha ekonomi lemah merupakan amanat TAP MPR, bahkan konstitusi sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 33 UUD 1945.

Ketetapan MPR RI Nomor I/MPR/2003 menyatakan bahwa TAP MPR Nomor XV1/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi (Pasal 2) menyatakan, "Pemerintah berkewajiban mendorong keberpihakan politik ekonomi yang lebih memberikan kesempatan, dukungan, dan pengembangan ekonomi usaha kecil, menengah, dan koperasi sebagai pilar ekonomi dalam membangkitkan terlaksananya pembangunan nasional dalam rangka demokrasi ekonomi sesuai dengan hakikat Pasal 33 UUD 1945."

Dalam Pasal 4 TAP MPR itu juga dinyatakan bahwa pengusaha ekonomi lemah diberi prioritas dan dibantu dalam mengembangkan usaha serta segala kepentingannya, agar dapat mandiri.

Pasal 5 pun mengatakan, usaha kecil dan menengah dan koperasi sebagai pilar ekonomi nasional harus memperoleh kesempatan utama, dukungan, perlindungan, dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha ekonomi rakyat.

Prinsip dasar demokrasi ekonomi lebih mengutamakan kepentingan rakyat banyak untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UUD 1945. Kita ingatkan, usaha kecil, menengah, dan koperasi harus diperkuat dan diperbesar jumlahnya serta-perlu dibantu keterkaitan dan kemitraan yang saling menguntungkan. [bataviase.co.id]

Rabu, 12 Januari 2011

Mereka yang Sukses “from Emperan to Empire”

Ada pepatah, “Kesuksesan lahir dari keberanian mengalahkan ketakutan”. Mungkin idiom ini yang menjadi pecutan bagi Fachrur Rozi dan Fadli hingga berani memulai sebuah usaha yang berawal dari modal Rp 100.000 hasil “bantingan” bersama. Kini, Rozi dan Fadli sudah menangguk hasil dari perjuangannya dalam waktu dua tahun ini. Dari Rp 100.000, dalam satu tahun saja, omzetnya sudah mencapai Rp 1 miliar. Bahkan, saat ini dalam sebulan sedikitnya berhasil mencapai transaksi hingga Rp 600 juta. Usaha apa, sih, mereka?
 
Berawal dari modal Rp 100.000, Rozi dan Fadli memulai usaha membuat sandal-sandal yang imut dan lucu. Mereka menyebutnya “imucu”. Bentuknya macam-macam, ada hewan dan buah-buahan. Awalnya mereka mencari agen dengan melakukan promosi di emperan. “Makanya, tagline yang menjadi semangat kami sekarang, from emperan to empire. Karena tadinya kami usaha di emperan, sekarang sudah jadi empire,” kata Rozi, yang menangani bidang pemasaran, kepada Kompas.com saat ditemui di ajang Pekan Wirausaha di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Minggu (11/4/2010).

Kesuksesan mereka tak hadir begitu saja. Sebelum memulai bisnis sandal-sandal lucu, Rozi dan Fadli masing-masing pernah mencoba berbagai bidang usaha. Mulai dari usaha roti bakar hingga mi ayam. Saat itu mereka juga masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan. “Dari yang semula hanya berdua, sekarang kami sudah punya karyawan 50 orang dan punya tim kreatif sendiri. Ceritanya, saya dan Fadli lagi sama-sama jatuh, punya utang banyak karena bisnis yang kami coba gagal. Tapi, saat itu masih kerja. Penghasilan bulanan hanya buat nutup utang. Akhirnya, kami menemukan sebuah produk, uang Rp 100.000-lah dipakai untuk buat prototipe sandalnya,” kisah Rozi.

Kemudian, lanjut Rozi, mereka mengambil celah berpromosi dalam sebuah pameran franchise di Surabaya, Jawa Timur. Lebih dari 500 brosur mereka bagikan di area parkir lokasi pameran. “Sampai kami kejar-kejaran sama anggota satpam karena yang ikut pameran aja bayarnya Rp 30 juta. Kami enggak bayar, kok, seenaknya promosi, mungkin dilihat seperti itu. Akhirnya, dari hasil promosi, kami mendapatkan 10 agen,” katanya.

Setiap agen harus membeli paket seharga Rp 250.000. Uang sebesar Rp 2,5 juta dari 10 agen inilah yang digunakan Rozi dan Fadli untuk memproduksi sandal lucu. Dari situ, order yang mereka terima semakin tinggi. Dalam satu tahun pertama, usaha mereka praktis tanpa saingan sehingga bisa mencapai pemasukan Rp1 miliar dalam satu tahun pertama. “Tapi, dalam tiga bulan pertama kami enggak dapat apa-apa. Semua keuntungan diputar lagi jadi modal. Bulan keempat baru kami berpikir bahwa tenaga yang kami sisakan sepulang kantor untuk mbungkusin produk juga harus dihargai. Akhirnya, ya, kami ambil keuntungan dibagi Rp 600.000 per orang. Berikutnya berlipat ganda,” ujar Rozi.

Setelah melihat perkembangan bisnis yang pesat, Rozi dan Fadli mengambil keputusan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan fokus menekuni usaha. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah memproduksi kaus-kaus lucu bagi anak-anak dan produk sandal jepit unik bagi remaja. Untuk sandal lucu, setiap agen bisa membeli 150 pasang sandal dengan modal Rp 2 juta. Sementara paket reseller, 15 pasang dengan modal Rp 250.000.

Kini, semua usaha itu juga dipasarkan secara online melalui beberapa situs web, di antaranya www.rajasendal.com dan www.myjapit.com. “Memulai bisnis itu jangan takut, tapi juga jangan ngawur. Sekali dua kali mungkin gagal, tetapi jangan berhenti. Biasanya mereka yang gagal berbisnis karena mereka berhenti untuk mencoba lagi. Memulai usaha itu tidak selalu dengan modal besar,” kata Rozi. [kompas.com]

Selasa, 11 Januari 2011

Kisah Sukses Haji Siri berhasil melalui Buah Markisa

Konon kabarnya markisa merupakan tanaman yang berasal dari Brazil dan menyebar sampai ke Indonesia, di negara asalnya markisa tumbuh liar dihutan-hutan basah yang mempunyai ratusan species Passiflora. Di Indonesia, markisa banyak ditemukan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung dan Sulawesi Selatan. Terkait dengan kesehatan, banyak sekali manfaat buah ini. Buah markisa kaya akan vitamin khususnya vitamin C dan vitamin A, dari hasil penelitian laboratorium, markisa mengandung vitamin C dosis tinggi dan antioksidan. 

Disamping merupakan komoditas buah yang dapat dikonsumsi dalam bentuk segar, markisa juga di konsumsi dalam bentuk olahan baik dalam bentuk Juice, sari buah maupun selei.

Seperti halnya Sumatera Utara, Sulawesi Selatan juga dikenal berbagai olahan buah markisa seperti yang dilakukan oleh H. Muhammad Siri salah satu produsen sirup markisa berlabel “Bola Dunia”. Kerja keras, ketekunan, dan tak mudah putus asa adalah prinsip pemilik CV Citra Sari dalam membesarkan usaha pengolahan buah markisa menjadi sari markisa dan hasilnya sangat mengagumkan. Kendati masih menggunakan peralatan yang sederhana namun produknya telah mampu menguasai pasar lokal, Jawa bahkan telah di ekspor..

Haji Siri demikian akrab disebut, merupakan bapak dari 9 orang anak memulai usahanya dengan menjual barang pecah belah. Selama 10 tahun berusaha dirasakan tidak mengalami kemajuan yang significan, dan dipicu oleh krisis yang terjadi tahun 1997 hasil yang diperoleh pun semakin merosot. Oleh karenanya pak H Siri kemudian berpikir untuk beralih usaha dengan produk yang tidak tergantung dengan gejolak nilai tukar mata uang yang pada saat itu memang menjadi bahan pembicaraan dilingkungannya. Dari pemikiran yang sederhana disertai dengan dukungan seluruh keluarga besar dipilihlah usaha sari buah markisa yang memang banyak terdapat didaerahnya.

Usaha pengolahan buah markisa mulai dijalankan pak H Siri tahun 1997 dengan bermodal dari sisa penjualan barang pecah belah ditambah tenaga kerja dari istri dan anak-anaknya. Prose produksinya pun masih sangat sederhana, hanya menggunakan pisau dan sendok sebagai alat pengeruk buah markisa. Awalnya, uji coba produk hanya dilakukan di lingkungan tempat tinggalnya.

Walaupun respons yang diberikan tetangga di lingkungannya cukup bagus, H. Siri kesulitan untuk memasarkan produknya lebih luas. “Pada periode tersebut pemasaran sangat susah. Bahkan, tidak semua toko yang mau dititipi produk sari markisa untuk dijual,” jelasnya.

Namun demikian, H. Siri tidak putus asa. Periode 1996-2000 merupakan masa penuh ujian dan kerja keras bagi H. Siri untuk mengenalkan dan memasarkan produknya di wilayah Kota Makassar. Beruntung, di kota Angin Mamiri tersebut H. Siri mendapat pembinaan dari dinas Perindag Propinsi yang secara intensif memberikan pelatihan kepada pelaku-pelaku usaha yang dinilai potensial untuk berkembang, dari situlah kemudian pengetahuan yang didapat diterapkan diperusahaannya. Kami juga pernah mendapat pelatihan dari orang Kanada urainya, sehingga kami mulai mengerti cara mengukur kadar gula dalam buah markisa secara cepat.

Kini H. Siri menikmati hasil kerja keras dan keuletannya. Walaupun masih berpenampilan sederhana , usahanya telah mampu menyerap tenaga kerja hingga 50 orang. Saat memulai hanya mampu menjual 25 s/d 35 botol perhari sekarang produksi rata-rata perhari 800 botol bahkan jika bulan puasa tiba ataupun hari-hari besar lainnya bisa 10 kali lipat. Predikat haji yang disandangnya pun merupakan hasil kerja keras dari mengolah buah markisa…….(rp-piumkm)

Ir Mursalim, Berjuang dengan Rumput Laut

Banyak suka duka yang dialaminya walau terjun dalam mengelola bisnis relatif masih baru. Selama 5 tahun lebih mengelola bisnis rumput laut yang unik dengan persaingan yang sangat keras, bahkan nyaris tergilas saat mulai merintis bersama dengan sahabat-sahabatnya. Seperti yang diceritakannya kepada penulis: “Waktu itu kami memulainya dari rasa kepedulian kami terhadap para petani budidaya yang selalu lemah posisi tawarnya.”

Lemahnya posisi tawar utamanya karena pedagang yang membeli rumput laut tersebut tidak pernah memberi informasi yang akurat tentang kadar air yang diperlukannya serta kadar kotoran yang terdapat pada rumput laut tersebut. Kadar air diukur secara manual dengan menggunakan genggaman tangan, sedangkan kadar kotoran hanya berdasarkan visual. Kedua ukuran tersebut sangat normative. Ukuran normatif tersebut dapat berbeda menurut waktu, tempat dan pembeli. Ukuran normatif yang demikian menyebabkan petani tidak mempunyai hak tawar terhadap komoditas

Akibatnya harga rumput laut pada tingkat petani relatif rendah dan tidak seragam antara satu pembudidaya dengan pembudidaya yang lain. Tidak simetrisnya informasi ini mendorong petani menangani produk hasil panen rumput lautnya tidak menurut permintaan konsumen.
Berawal dari pengalamannya semasa menjadi aktivis mahasiswa di Universitas Hasanudin, jaringan LSM dan mengelola BDSP Mattirotasi di Sulawesi Selatan, memberikan tekat yang kuat dari dirinya untuk memberdayakan masyarakat petani di lingkungannya untuk hidup mandiri dan dapat mencukupi kebutuhan hidup sendiri.

Di jajaran petani rumput laut Sulawesi selatan, nama Mursalin tidak asing lagi. Berusia muda tidak lebih dari 40 tahun, dengan pembawaannya yang low profile, bicaranya ceplas-ceplos dengan logat Makassar yang masih kental, senyumnya tak lekang dari bibir, dia mempunyai catatan panjang dalam bisnis yang unik ini. “Proses pendampingan yang kami lakukan di berbagai daerah kepada kelompok tani merupakan salah satu proses pembelajaran yang secara tidak langsung bermanfaat bagi kami dalam mengelola bisnis ini,” ujarnya. Ditambahkannya bahwa relationship adalah kunci utama kesuksesan dalam suatu bisnis, Relationship dengan pelanggan memerlukan saling pengertian, saling percaya dan tidak mencederai satu sama lain dalam proses jual beli yang dinamis.

Kendala memulai usaha bahkan kegagalan dalam usaha adalah hal biasa. “Kita harus bangkit dan mencari terobosan baru atau inovasi baru. Harus jeli melihat competitors atau pesaing kita, mengapa mereka bisa sukses, dimana kelebihannya. Apakah faktor harga, kualitas, inovasi atau servicenya ? Itu yang harus selalu kita diskusikan bersama teman-teman,” ujarnya. “Rumput laut mulai langka di pasaran akibat hujan yang berkepanjangan dalam tahun ini. Akibatnya harga mulai naik menjadi sekitar Rp 7.000 – Rp. 8.000 per kilogram, Di satu sisi kami harus menyadarkan kepada kelompok petani kami untuk tidak terlalu ikut-ikutan menaikkan harga, tetapi di lain pihak kami juga menjelaskan kepada pabrikan yang menjadi pelanggan kami untuk memberikan insentif kepada petani agar proses transaksi di kemudian hari oleh petani tidak terganggu hanya karena kualitasnya menurun.”

Saat ini dia tergabung dalam sebuah usaha bersama dengan para sahabatnya yang diberi nama “Celebes Seaweed Group” yang beralamat di Jalan Manunggal 31 No.93, Makassar, dan telah berhasil menguasai pasar di Sulawesi Selatan, khususnya untuk rumput laut jenis Gracilaria dan secara kontinyu telah meng ekspor ke China. “Kami pernah diundang ke sana (China) untuk melihat-lihat industri pengolahan rumput laut. Kita seharusnya mencontoh keberhasilan mereka dalam mengembangkan industri pengolahannya, tidak selalu hanya mengekspor bahan baku saja. 

Kami siap membantu Pemerintah bila ingin memajukan industri pengolahan di Makassar, tapi tolong juga dipertimbangkan penyiapan industri pendukungnya dan kebijakan-kebijakan yang kondusif baik bagi petani maupun industrinya sendiri agar mampu bersaing dalam harga dan kualitasnya. Tidak seperti sekarang ini infrastruktur pendukung pengolahan rumput laut banyak tersebar di pulau jawa, sedangkan kami disini babak belur untuk menyangga agar harga rumput laut sesuai dengan keinginan petani budidaya dan kemampuan dari pabrikan.”

Akhir kata saat menutup perjumpaan, dengan kerendahan hatinya dia menyatakan “Apalah artinya saya jika tidak didukung oleh para sahabat di sekeliling saya”. Demikianlah sosok Mursalin yang penulis kenal, seorang pekerja keras, teguh dalam berkomitmen dan sangat idealis. (Rp-PIUMKM)

TOKOH KAMPOENG BATIK KAUMAN

H. Fatchur Rachman Noor biasa dipanggil Tokman adalah pengusaha Batik yang sukses dari Kampoeng Batik Kauman Kota Pekalongan. Mulai terjun ke bisnis batik tahun 1974 sebagai generasi ke dua dari generasi  sebelumnya sebagai pengusaha batik , meneruskan bisnis ayahnya sebagai pembuat sarung dan kain panjang. Dari 12 saudaranya hanya 6 orang yang terjun ke dunia batik.

Dari pandangan, pengamatan  dan temuan – temuan dunia perbatikan di Pekalongan  ternyata usaha batik Pekalongan tidak boleh besar dan dituntut proses pembuatannya tradisional,  maka beliau  dalam menggeluti usahanya memfokuskan diri pada produksi saja.

Sedangkan untuk pemasaran sudah ada bakul – bakul yang datang ke rumahnya untuk membeli , karena  ingin lebih memperluas pangsa pasar maka beliau membuka outlet - outlet antara lain di Pasar Grosir Setono dan melalui internet di www.batiknulaba.multyply.

Di tangan beliau perusahaan batiknya semakin sukses dan cukup terkenal di kalangan pengusaha batik di Pekalongan dan sudah punya brand Batik Nulaba.

Ciri khas batik Nulaba adalah bercorak  kontemporer dan fashionable ,selalu mengikuti trend masa kini . Dari pengalaman memproduksi batik kalau  mengikuti pakem batik perlu biaya tinggi sedangkan batik saat ini kalah bersaing dengan batik printing.  Bahan baku yang yang digunakan  sebagian besar dari kain prima yang bagus untuk baju karena adem jika dipakai. Produknya berupa pakaian wanita, hem pria, daster - daster, sprei, berbagai tas dan handicraft lainnya.

Sampai saat ini bisnis batik H. Fatchur Rachman memiliki pegawai 60 orang dengan produksi 250 kodi per hari, 10.000 yard per bulan, harga pruduk batiknya berkisar antara Rp. 50.000,- sampai Rp. 100.000,- per potong.

Untuk lebih memotivasi para pekerjanya Pak Tokman menerapkan sistem kerja borongan dalam satu minggu hanya bekerja 4 hari, dan hasilnya lebih produktif , pekerjanya lebih semangat karena ada waktu 2 hari untuk bekerja sampingan atau berkumpul dengan keluarga.

Menciptakan alat pencelup yang ramah lingkungan
Sebagai seorang yang kreatif tidak pernah berhenti untuk berinovasi. Pada tahun 1993 beliau berkolaborasi dengan ahli pembuat roll dan ahli mekanik menciptakan alat pencelup. Alat tersebut fungsinya sangat luar biasa yaitu ramah lingkungan, produktivitas bisa meningkat, tenaga kerja bisa ditekan, siklus kerja lebih teratur, aspek kecepatan kerja, meningkat,hasil produksi lebih bagus. Harga alat tersebut sekitar 20 jutaan. tapi jika dibandingkan manfaatnya yang sangat besar tidak terlalu mahal.

Sebagai orang yang sangat peduli kepada lingkungan beliau mempromosikan dan mengajak  agar para pengusaha batik menggunakan alat pencelup tersebut, tapi usahanya susah diikuti karena masih banyak pengusaha batik yang belum peduli lingkungan , sekian banyak  industri batik baru satu orang produsen yang mengikuti jejaknya yaitu pengusaha Batik Tobal.

Dalam menjalankan bisnis batiknya beliau sangat memperhatikan lingkungan terutama masalah pencemaran limbah batik, maka jika kita mengunjungi pabriknya bisa dilihat proses pembuatan batiknya sudah menggunakan penampungan limbah batik dan limbah batiknya bisa di gunakan lagi untuk batik yang kualitas lebih rendah, ……… .sistem daur ulang.

Sejarah terbentuknya paguyuban Kampoeng Batik Kauman
Dengan adanya Industri batik yang  hancur dari tahun 1975 sampai tahun 1985  banyak pabrik - pabrik yang tutup , persaingan tidak sehat dan teknologi perbatikan hampir tidak bisa berkembang.  Warga Kampoeng Kauman  merasa prihatin dengan kondisi tersebut, tahun 1985 warga Kampoeng Kauman mulai mempunyai spirit untuk merubah keadaan dan didukung oleh fasilitas dari pemerintah daerah untuk membangkitkan kembali batik Pekalongan ke zaman keemasan nya lagi. Dengan dukungan promosi pameran ke luar negeri, mendatangkan desainer - desainer dari Jakarta  industri batik mulai menggeliat lagi.

Dengan dukungan Walikota Pekalongan pada acara ulang tahun Koperasi 12 Juli 2008 Paguyuban Kampoeng Batik Kauman terbentuk dan diresmikan oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla.

Paguyuban Kampoeng Batik Kauman, sebuah paguyuban dari komunitas pengusaha & pengrajin batik , pelajar , masyarakat Kauman dan sekitarnya, Sekretariat Kampoeng Batik Kauman ada di Jl.Kauman X/1 Kota Pekalongan.

Dengan kerja keras dan semangat kebersamaan masyarakat Kampoeng Kauman sangat peduli  terhadap perlunya teknologi informasi, perlunya menangani limbah batik  dan perlunya ikut pelatihan - pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM nya. Bisa dilihat hasilnya bagaimana lingkungan Kampoeng Kauman saat ini berbeda sekali sudah ada penanganan limbah batik , sudah berdiri Telecenter Kampoeng Batik Kauman  sebagai tempat untuk berkumpul,  tempat  diskusi  menyalurkan aspirasi masyarakat, dan yang cukup penting untuk mempercepat bisnisnya secara on line. Pembentukan Telecenter  difasilitasi oleh Pemerintah Kota Pekalongan dengan memberikan seperangkat Komputer dan jaringan internetnya. Juga ada pendampingan untuk mengelolanya.

Pak Tukman sebagai Penasehat Paguyuban Kampoeng Batik Kauman merasa bangga dan akan terus membangun Kampoeng Batik Kauman bersama warganya dan mempunyai rencana dalam waktu dekat akan mereposisi pengurusnya untuk lebih memajukan masyarakat Kampoeng Batik Kauman.

Konsep dagang yang halal
H. Fatchur Rachman Noor ayah dari 5 orang putera ini adalah seorang pengusaha batik yang sukses, sangat rendah hati, suka humor dan punya hobby olah raga dan menyanyi.  Dan dalam bisnisnya selalu menekankan bisnis yang halal yang diterapkan dalam semua bisnisnya dengan cara selalu menuliskan harga pada barang yang dijualnya, salah satunya bisa dilihat pada bisnis barunya yaitu restauran  Pande Rasa , di restoran yang dirintisnya ini  harga-harga makanan sudah diketahui sebelum pengunjung pesan makanannya.  Cara-cara seperti itulah yang ditekankan kepada keluarganya agar bisnis apapun  yang digelutinya harus mengutamakan kejujuran. (is-piumkm)

Agrobis UMKM Tanaman Jarak Kepyar

Sejak awalnya KADIN UMKM sudah melaksanakan komitmen untuk menggerakkan Ekonomi Pertanian, pada edisi yang lalu telah disampaikan kerjasama KADIN UMKM Jatim dengan PT.Agrotek Global Nusantara  yang mengolah serat Fiber Tanaman Kenaf untuk bahan baku komponen mobil, kertas, pulp, karpet geotekstil dan bahan peredam suara. 
Lahan pertanian yang masih terbentang luas merupakan potensi yang belum banyak dikembangkan, banyak jenis tanaman komersial yang memerlukan lahan.  Pada edisi ini disampaikan peluang kerja, usaha dan investasi dalam penanaman tanaman Jarak. 
Kerjasama dibidang Agro telah dilakukan KADIN UMKM JATIM dengan CV.Joyo Multi Agro dalam pengadaan Biji Jarak Kepyar ( Ricinnus communis L) selaku pelaksana sosialisasi tanaman jarak kepyar dari PT.Kimia Farma untuk kebutuhan bahan baku minyak industri seperti minyak pelumas, cat , surfactant, dispersan, kosmetika, coating, nylon-11 dan urethane..

Tanaman jarak kepyar dan jarak pagar memiliki  prospek yang sangat bagus dimasa depan dengan adanya pabrik pengolahan seperti yang dimiliki oleh Kimia Farma di Semarang. kebutuhannya terus meningkat dan pengadaannya dapat terus menerus dilakukan, sementara sumber energi dari minyak dan batu bara bila habis tidak dapat diperbaharui. Minyak jarak atau castor oil mengandung trigliserida asam asam lemak terutama asam ricinoleat dengan konsentrasi 89,5%-b sehingga sering disebut trigliseda asam ricinoleat.

PT Kimia Farma Tbk telah menggandeng, Green Food, sebuah perusahaan China untuk melakukan investasi minyak jarak di Indonesia dengan total nilai sekitar US$200 juta. Menurut Direktur Utama perseroan M. Syamsul Arifin, di Beijing, saat ini China ingin mengembangkan minyak jarak yang memiliki dua jenis yakni jarak kepyar dan jarak pagar yang banyak terdapat di Indonesia.

Kebutuhan Kimia Farma atas bahan baku jarak kepyar dalam setahun mencapai 6.000 ton. Guna memenuhi kebutuhan ini  KADIN UMKM JATIM telah berhasil mengkoordinir para petani anggota yang telah melakukan penanaman terhitung sejak Bulan Desember 2009  sampai Ferbruari 2010 dibeberapa kabupaten yang diperhitungkan akan dapat dipanen antara bulan Juni sampai Oktober 2010 dengan target sebanyak 5.800 ton, harga per kilogram akan dibeli sampati digudang Semarang Rp.3.000,-.

Saat ini sudah ditanam oleh para petani anggota KADIN UMKM di kabupaten Pacitan seluas 168 Ha, Trenggalek 730 Ha, Blitar 25 Ha, Madiun 325 Ha, Magetan 10 Ha, Kediri 40 Ha, Ngawi 90 Ha, Nganjuk 35 Ha, Sidoardjo 25 HA, Gresik 10 Ha, Jember 112.5 Ha, Probolinggo 145 Ha, Batu 150 Ha, Bangkalan 100 Ha, Lamongan 5 Ha, uban 6 Ha, Wonogiri 20 Ha, Sumenep 102,5 Ha, Malang 60 Ha, Situbondo 200 Ha, Bondowoso 100 Ha, Besuki 160 Ha.     

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melarang penggunaan jenis tanaman konsumsi makanan rakyat untuk dijadikan bioenergi seperti kedelai dan jagung. Jarak dinilai sangat cocok untuk digunakan sebagai sumber energi karena tidak bisa dimakan. Kelebihannya selain sebagai bahan bakar tanaman ini mengandung racun sehingga tidak bisa dikonsumsi masyarakat, berbeda dengan kedelai dan jagung yang bisa dimakan. Selain itu minyak jarak adalah minyak yang sangat tahan terhadap cuaca dingin sehingga tidak mudah beku jika di ekspor ke China, jika dipanaskan pada suhu 200 derajat celcius masih stabil.

China yang sangat haus energi membutuhkan jarak pagar sebab tanaman ini tidak cocok ditanam di China karena tumbuh di lahan-lahan gersang seperti yang ada di sejumlah wilayah di Jawa, NTT, dan NTB.  Jarak pagar biasanya digunakan untuk bioenergi sedangkan jarak kepyar untuk industri kimia seperti pabrik cat, pabrik kosmetik, farmasi, serta bubur kertas. Kimia Farma sudah pengalaman sejak 1971 mengembangkan minyak jarak kepyar, oleh sebab itu mau bermitra dengan China yang sedang mencari mitra investasi. Kerjasama ini  akan mengembangkan sekaligus dua jenis tanaman jarak mengingat keduanya memiliki fungsi dan manfaat yang banyak dan menguntungkan.
Kimia farma sudah memiliki pabrik pengolahan minyak jarak yang berlokasi di Semarang dan telah memiliki kebun pembibitan.Kebun pembibitan tersebut dinilai masih kurang dan masih mengembangkan perkebunan rakyat yang tersebar di Wonogiri, Grobogan, jember, Situbondo, mataram, dan Bima.Ia berharap dengan adanya kerjasama dengan perusahaan China akan bisa mengembangkan lahan sendiri dengan volume yang besar sehingga mampu mengembangkan minyak jarak kepyar dan pagar. Nantinya sekalipun telah memiliki lahan perkebunan yang besar PT.Kimia Farma  tetap membutuhkan jarak dari para petani yang selama ini menjadi pemasok.

Jumat, 31 Desember 2010

Robotic Explorer Di Thamrincity Jakarta

Pembukaan World Robotic Explorer Sabtu (11/12/10) kemarin diramaikan dengan kehadiran robot Nao, sebuah robot humanoid hasil produksi Aldebaran Robotics, perusahaan pengembangan robot yang berpusat di Perancis.
 
Apa itu Nao? Bruno Maisonnier, CEO Nao Foundation mengungkapkan, “Nao bukan singkatan. Nao bisa berarti dekat dengan nanoteknologi yang kini jadi tren, bisa juga berarti otak atau terang.”
Digolongkan sebagai robot humanoid, maka Nao mampu menunjukkan ekspresi kemanusiaannya. Misalnya, robot ini mampu menunjukkan emosi sederhana seperti yang ditunjukkan oleh anak berusia satu tahun.

Nao juga mampu mempertontonkan berbagai macam gerakan, seperti berjalan, menari, duduk, berdiri, menendang dan meraih objek tertentu. Selain itu, robot ini juga mampu menolehkan kepala ke arah seorang pembicara atau sumber suara.

Nao memiliki tinggi sekitar 58 cm dan berat 4.3 kg. Robot ini memiliki kemampuan autonomi selama 90 menit dengan gerakan jalan konstan serta bisa di-charge. Dikembangkan dalam sistem operasi Linux tetapi juga kompatibel untuk Windows dan Mac, robot ini dilengkapi dua kamera CMOS 640 x 480.

Saat dipertontonkan di acara pembukaan World Robotic Explorer di Thamrin City Jakarta, Nao diminta Maisonnier untuk membacakan sebuah dongeng. Maka, mulailah ia bicara, “once upon a time … “, menceritakan dongeng dengan intonasi suara layaknya balita.
Dalam kesempatan itu, Maisonnier juga meminta Nao untuk mengirimkan sebuah pesan. Maka, Nao mulai mengerjakannya dengan berkata “ok”, diam sejenak untuk memproses dan menyampaikan hasil kerjanya dengan berkata “your message has been sent”, seperti teks yang tertulis setah mengirimkan email.

Nao memang dilengkapi dengan sistem komputer yang terintegrasi dan koneksi wifi sehingga mampu melakukan aktivitas di internet seperti download dan pengiriman pesan secara aman. Nao juga dilengkapi speech function sehingga bisa merespon secara verbal pesan, email, buku atau dokumen lain yang dikirimkan padanya.

Maisonnier juga mengatakan bahwa Nao merupakan partner yang baik dalam pendidikan. “Jika anda ingin menarik minat para siswa pada sains dan teknologi, maka robot seperti Nao adalah jawabannya. Robot ini bisa menjadi partner dala pendidikan” kata Maisonnier.

Nao adalah robot humanoid yang menggunakan programming yang cukup friendly yang bisa digunakan mulai dari kelas pemula hingga ahli. Memiliki software Choregraphe dan 3D Simulator, robot ini mampu membimbing siswa dan guru untu mempelajari robot sehingga menjadi cara yang menyenangkan untuk belajar sains dan teknologi.

Nao Foundation sendiri adalah bagian Aldebaran Robotics yang concern dalam bidang pendidikan. “Mulai tahun depan, kami berencana untuk mengembangkan buku teks yang mampu mengajak banyak murid untuk mendalami robotik,” ungkap Maisonnier.

Maisonnier melanjutkan, “Kami juga memiliki beberapa program pengembangan bagi para guru dan dosen dari berbagai universitas.” Salah satunya, bulan Februari 2011 ke depan, Nao Foundation akan mengadakan workshop yang diikuti oleh dosen-dosen.

Lewat Nao Foundation, Maisonnier berharap, “Kami butuh banyak peneliti untuk mengembangkan robot. Kami harap anak-anak sekarang banyak yang akan mendalami robotik sehingga bisa turut mengembangkannya.”Robot Nao kini dipakai sebagai robot model yang dipakai dalam World Robotic Olympiad, pertandingan robot sepakbola dunia yang digelar bersamaan dengan Piala Dunia menggantikan robot anjing Sony Aibo yang dihentikan pengembangannya
 
Copyright © 2013 ThamrinCity
Design by FBTemplates | BTT
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Flickr YouTube